|
17 JANUARY 2010
Beberapa waktu yang lalu, keinginan saya tergugah dengan sebuah pernyataan yang dibuat oleh Yakobus tentang Abraham, Bapa orang beriman. Yakobus berkata:
Yakobus 2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”; Karena itu Abraham disebut “Sahabat Tuhan.”
Cermati bagaimana Yakobus memberikan perhatian pada kenyataan bahwa Abraham disebut Sahabat Tuhan. Tuhan yang maha kuasa, maha Mulia, maha hadir, maha dahsyat dan maha mengetahui, adalah yang membuat pertanyaan ini. Ini bukanlah perkiraan Abraham tentang hubungannya dengan Tuhan, bukan pula pendapatnya tentang Tuhan. Ini adalah pernyataan yang dibuat Tuhan mengenai Abraham.
Yakobus mengutip dari Yesaya 41
Yesaya 41:8 Tetapi engkau, hai Israel, hambaKu hai Yakub, yang telah kupilih, keturunan Abraham yang kukasihi.
Anak-anak Israel adalah hamba-hamba Tuhan dan keturunan Abraham, yang adalah sahabat Tuhan. Pertimbangkanlah sejenak betapa mengagumkannya kata-kata ini, dan betapa mengagumkan hubungan yang yang digambarkan oleh kata-kata tersebut! Pertimbangkanlah bagaimana makhluk yang terbatas, fana, tidak bisa lepas dari kematian mendapatkan penghargaan dari Tuhan yang Maha Dahsyat, kekal, Maha Mengetahui dan Maha Tinggi sebagai sahabatNya yang terkasih. Pertimbangkan pula bagaimana seorang manusia yang tidak sempuna, yang dijadikan dari debu tanah akan dipandang oleh Tuhan pencipta yang mempunyai Roh Kekekalan, sebagai seseorang dengan siapa Ia dapat menjalin persahabatan yang hangat, tak berakhir dan istimewa.
Namun kata “Sahabatku” adalah kenyataan bagaimana anggapan Tuhan terhadap Abraham, dan hubungannya dengan Tuhan adalah suatu persahabatan yang nyata dan mendalam.
Ini tentunya mendorong timbulnya pertanyaan yang mengusik:
- Bagaimana mungkin hubungan semacam itu dapat terjadi?
- Apa yang membuat persahabatan semacam itu dapat terbentuk?
- Dan akhirnya, dapatkah kita menikmati hubungan semacam itu dengan Tuhan, dan apabila kita dapat, bagaimana cara memperolehnya?
Sebagian dari jawaban atas pertanyaan terakhir adalah “ya”. Tuhan tidaklah mengistimewakan pribadi tertentu. Kita juga dapat mengalami persahabatan dengan Tuhan sama seperti yang dialami oleh Abraham. Namun untuk dapat mengalami hubungan persahabatan ini pertama-tama kita perlu untuk menguji apa yang menjadikan persahabatan mereka menjadi seperti itu, untuk memahami bagaimana kita dapat, seperti Abraham, disebut sebagai sahabat-sahabat Tuhan.
Diperlukan Adanya Suatu Kesepakatan
Anda dan saya sudah bertemu banyak orang dalam perjalanan hidup kita hingga sekarang ini, dan tentunya akan bertemu lebih banyak orang lagi di masa depan. Namun apabila kita bandingkan, hanya beberapa yang telah menjadi, atau akan menjadi teman dekat kita. Mengapa?
Salah satu alasan yang sangat jelas dan hal utama adalah dari segi kesepakatan.
Pikirkan sejenak hal itu. Sahabat terbaik kita adalah mereka yang sepakat dengan kita pada sejumlah besar masalah yang penting. Sahabat mempunyai pemikiran yang serupa. Kita dapat saja bersikap bersahabat dengan orang lain — maksudnya, selalu dapat melakukan percakapan yang menyenangkan dan hangat dengan mereka, senang bertemu dengan mereka dari waktu ke waktu — tetapi sahabat baik kita adalah mereka yang berpikir seperti kita. Ketidakcocokan pemikiran, pendapat yang berbeda, dan pilihan-pilihan yang berbeda benar-benar tidak menjaddikan hubungan akrab. Pepatah lama mengatakan burung-burung yang sejenis bergerombol bersama-sama. Demikian pula halnya dengan Abraham dan persahabatannya dengan Tuhan. Ia mempunyai kesepakatan penuh dengan Tuhan.
Perhatikanlah apa yang Tuhan katakan tentang Abraham dalam Kejadian 26. Di sini Tuhan berbicara kepada Ishak dan meneguhkan kembali janji yang sudah diberikanNya kepada Abraham, janji yang kemudian tetap dipegangNya dengan Ishak.
Kejadian 26:3-5 TinggTuhan di negeri ini sebagai orang asing maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini dan Aku akan menepati sumpat yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. 4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi ini akan mendapat berkat, 5 karena Abraham telah mendengarkan firmanKu dan memelihara kewajiban kepadaKu, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukumKu.”
Mengapa Tuhan membuat janji yang tidak bersyarat kepada Abraham, dan kemudian meneruskan janji itu kepada Ishak, anak laki-laki Abraham? Karena Abraham mentaati Tuhan dan memelihara perintah-Nya (ayat 5). Abraham mempunyai kesepakatan sepenuhnya dengan Tuhan. Ia mentaati Tuhan secara tepat dan dalam hal yang sekecil-kecilnya bahkan pada saat ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Nabi Amoslah yang kemudian mengajukan pertanyaan yang retoris:
Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
Pengertian dari bahasa Ibrani ayat ini sungguh menarik. Kata berjanji di sini diambil dari bahasa Ibrani ya’ad (SHD 3259) yang berarti menetapkan, menunjuk, mengatur, bertemu, menentukan, mengikatkan; mempertemukan, mempertemukan atas dasar perjanjian, dan lain sebagainya. Pengertian ini tidak hanya dua orang yang berjalan bersama-sama ke arah yang sama karena mereka setuju untuk itu, namun lebih pada pengertian adanya dua orang yang bersepakat untuk dan membuat suatu perjanjian untuk bergabung dan dari situ memulai sebuah perjalanan bersama ke satu tujuan. Hal ini adalah seperti berkata kepada seseorang, saya akan bertemu anda di Kantor Pos dan dari sana kita dapat pergi ke restoran. Alkitab versi RSV menangkap pengertian ini:
Amos 3:3 Akankah dua orang berjalan bersama, kecuali jika mereka telah lebih dulu berjanji? (terjemahan bebas)
Konteks dari perikop ini diberikan dalam ayat-ayat yang mendahuluinya.
Amos 3:1-2 Dengarkanlah firman ini, yang telah diucapkan Tuhan mengenai kalian, hai orang-orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir, bunyinya: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala pelanggaranmu. (terjemahan bebas)
Tuhan membawa Israel keluar dari Mesir dan membawanya ke Gunung Sinai dimana Tuhan membuat perjanjian dengan mereka. Dalam perjanjian itu Ia berjanji untuk melindungi dan memberkati mereka. Sebagai balasannya, umat Israel berjanji untuk mentaatiNya dan memelihara hukum-hukumNya. Disinilah kesepakatan atau perjanjian terjadi antara bangsa Israel dan Tuhan mengenai rencana mereka untuk berangkat bersama-sama menuju suatu kehidupan baru di tanah perjanjian. Akan tetapi, Israel mengingkari bagian kewajiban mereka dan berbelok dari arah mereka. Berulang-kali mereka mengatakan, kami akan turut serta, kami setuju, tetapi kata-kata mereka bukanlah kata-kata yang dapat dipegang dan karena itu Israel dan Tuhan tidak dapat berjalan bersama-sama untuk waktu yang lama.
Dalam hal ini, Israel telah gagal meneladani Abraham nenek moyangnya yang:
- pergi dari negerinya ke suatu negeri yang akan Tuhan tunjukkan padanya;
- mengetahui cara bagaimana Tuhan berjalan dan menyesuaikan diri dengan itu;
- hidup sesuai dengan perintah Tuhan dan tidak mengikuti cara dunia ini.
- Abraham berada dalam kesepakatan yang tepat dan tetap dengan Tuhan — dan hal itu merupakan salah satu faktor yang merupakan kontribusi terhadap persahabatannya dengan Tuhan.
Padanannya bagi kita sebagai orang Kristen adalah bahwa kita membuat perjanjian dengan Tuhan pada saat dibaptiskan. Kita mengatakan, Ya! Kami akan pergi ke mana Anda ingin pergi. Kami akan melakukan apa yang Anda ingin lakukan. Pada saat dibabtis, kita mengadakan perjanjian denganNya untuk mengasihiNya dan mentaatiNya. Dari sisi Tuhan, Ia menjanjikan pengampunan, karunia-karunia Roh Kudus, dan kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga. Apabila kita setia pada perjanjian kita dengan Tuhan dan memastikan untuk memasrahkan kemauan dan keinginan kita sesuai dengan kehendakNya — apabila kita mengijinkan Dia untuk menentukan langkah dan menetapkan arah yang akan kita tempuh, maka kita akan mempunyai suatu kesepakatan denganNya yang merupakan salah satu faktor yang mutlak bagiNya untuk menyebut kita sahabatNya.
Setia Dan Dapat Diandalkan
Faktor penting yang ke dua yang memberikan kontribusi terhadap adanya persahabatan adalah sikap setia dan dapat diandalkan. Apabila anda merenungkan kembali orang-orang yang anda hitung sebagai teman dekat anda, maka mereka itu adalah orang-orang yang setia kepada anda baik dalam kesusahan maupun kesenangan. Itu adalah orang-orang yang bisa anda andalkan pada saat anda berada dalam suatu pertaruhan.
Kita pernah mendengar dan mungkin juga pernah menggunakan peribahasa kawan di cuaca cerah. Kita menggunakannya pada mereka yang suka menjadi teman kita pada saat segala sesuatu berjalan baik dan lancar. Tetapi, pada saat permasalahan dan kesulitan menimpa, mereka menghilang. Kawan di cuaca cerah bersikap seperti itu karena mereka mencari apa yang dapat mereka peroleh dari sebuah hubungan — dan bukannya apa yang dapat mereka berikan atau taruh di dalamnya.
Akan tetapi, sahabat yang sejati adalah mereka yang saling setia dan saling mempercayai satu sama lain saat senang dan pada saat kesusahan datang:
- sahabat yang sejati saling mendukung
- sahabat yang sejati saling berkorban
- sahabat yang sejati dapat diandalkan — mereka selalu ada pada saat diperlukan
Yesus Kristus menjelaskan pentingnya kesetiaan, kehandalan dan pengorbanan sebagai sebuah komponen dari persahabatan kita denganNya, pada malam menjelang kematianNya. Saat berbicara kepada murid-muridnya Yesus mengatakan:
Yohanes 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Dan Ia setia pada perkataanNya itu. Kristus menunjukkan pada kita sikap persahabatan yang pamungkas dengan mengorbankan nyawaNya bagi kita sebagai korban tebusan dosa-dosa kita. Ia mempraktikkan apa yang Ia ajarkan. Ia mengorbankan segalanya bagi kita.
Pengorbanan Kristus bagi kita, sebagai pernyataan persahabatanNya yang sejati terhadap kita, seharusnya membangkitkan sikap setia dan dapat diandalkan pada diri kita.
Yohanes 15:14 Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
Kristus menjelaskan bahwa, sama seperti Ia siap memberikan segalanya bagi kita, kitapun perlu melakukan segalanya bagi Dia untuk menunjukkan kesetiaan kita dan kehandalan kita padaNya.
Tentu saja, kesetiaan dan kehandalan hanya dapat menjadi sepenuhnya terlihat ketika kita diuji dan digoda untuk melawan prinsip-prinsip tersebut. Sebagai contoh, apabila anda diberitahu oleh majikan atau atasan anda bahwa jika anda tidak bekerja pada hari Sabat akan mengakibatkan dilakukannya tindakan tegas pada anda, bahkan mungkin hilangnya pekerjaan anda — dan anda memiliki keluarga yang perlu dukungan dan/atau rekening-rekening yang harus dibayar — maka pada saat itu perintah untuk mengingat dan menguduskan hari Sabat dapat menjadi ujian yang berat atas kesetiaan kepada Tuhan dan Kristus.
Namun, apabila kita adalah sahabat sejati Tuhan dan putraNya, kita akan setia kepada perintahNya, tanpa menghiraukan konsekuensi-konsekuensinya. Dan melalui tindakan-tindakan kita, Tuhan dapat melihat bahwa Ia dapat mengandalkan kita untuk dapat melaluinya tanpa tercela. Dan Ia tidak akan membiarkan kesetiaan seperti itu lalu begitu saja. Pada waktunya kesetiaan kita akan memperoleh kompensasi, dalam hidup ini atau dalam hidup yang akan datang.
Abraham adalah seorang sahabat sejati Tuhan dalam pengertian ini — dan ujian yang diberikan Tuhan untuk mengorbankan Ishak menunjukkan baik kesetiannya kepada perintah Tuhan dan juga bahwa ia dapat diandalkan. Ketika Abraham menerima perintah untuk membunuh Ishak, tak pelak perasaan kacau muncul dalam pikirannya. Pengorbanan manusia adalah sesuatu yang lumrah dalam agama-agama palsu pada jaman itu. Sehingga, mungkin pada satu tahap, tuntutan untuk membunuh Ishak tidak terlihat sama sekali tak berasalan bagi Abraham. Tidak ada catatan bahwa Abraham mempertanyakan tentang hal ini kepada Tuhan. Di sisi lain, Ishak merupakan anak yang sangat dikasihi Abraham. Dia adalah anak yang dijanjikan. Melalui anak inilah Tuhan akan memenuhi janji yang pernah Ia berikan pada Abraham (Kejadian 17). Tambahan pula, Abraham mungkin juga dapat berasalan bahwa membunuh orang lain merupakan suatu pembunuhan dan tentunya hal itu adalah dosa.
Akan tetapi, Abraham melakukan seperti yang diperintahkan Tuhan dan membuat persiapan untuk mengorbankan Ishak. Ia menunjukkan kesetiannya kepada Penciptanya. Karena itu, Tuhan menganggap Abraham sebagai sahabatNya.
Kemampuan Untuk Dapat Mempercayakan
Satu aspek terakhir yang membentuk persahabatan sejati yang akan kita renungkan adalah kemampuan dari sahabat sejati untuk saling mempercayakan.
Pengertian ini dilandaskan pada dua pengertian sebelumnya. Sahabat sejati kita adalah seseorang kepada siapa kita dapat mempercayakan sesuatu dengan sepenuhnya. Mereka adalah orang-orang kepada siapa kita dapat mengkomunikasikan perasaan dan kepercayaan kita yang terdalam, karena kita tahu bahwa kita memiliki seorang pendengar yang siap memberikan dukungan dan tidak akan mengkhianati kita.
Dengan seorang sahabat sejati kita dapat mendiskusikan apa yang ada dalam pikiran kita, kita dapat berbagi sukacita, pendapat kita, rencana kita, dan bahkan dukacita dan penyesalan kita. Manakala terdapat persahabatan yang kuat dan mendalam, tidak ada yang perlu disembunyikan.
Kristus menjelaskan dimensi dari persahabatan seperti ini:
Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku.
Sahabat saling mempercayakan segala sesuatu antara satu dengan yang lain, dan Kristus menganggap kita sebagai sahabatNya yang seperti itu sehingga Ia dapat mempercayakan segala seuatu pada kita dan memberitahukan semua rencana, harapan dan keinginan yang ada padaNya dan pada BapaNya bagi kita dan umat manusia. Ia mengatakan bahwa semua yang telah Ia dengar dari Bapa, sudah diberitahukanNya kepada kita. Sementara itu, bergantung pada tingkat persahabatan kita dengan orang lain, kita cenderung untuk menyembunyikan hal tertentu. Hanya ada sedikit orang dengan siapa kita dapat menceritakan segalanya. Hanya teman terdekat kita yang mendapatkan perlakuan semacam itu. Tetapi Kristus menunjukkan di sini bahwa Dia menganggap kita sebagai sahabatNya yang paling dekat dan paling simpatik.
Sama seperti Tuhan melalui Kristus mengulurkan persahabatan kepada kita melalui kesediaanNya untuk mempercayakan segala sesuatu pada kita, maka kita harus membalas sikap persahabatan itu padaNya dengan mempercayakan segala sesuatu padaNya. Kita harus meluangkan waktu untuk bercakap-cakap denganNya, mencurahkan isi hati kepadaNya, dan menceritakan semua kebutuhan dan keinginan kita.
Abaham adalah manusia seperti itu. Dan sedemikian baiknya ia sebagai seorang sahabat sehingga Tuhan sungguh-sungguh menganggapnya sebagai seorang yang terpercaya. Dalam Kejadian 18 kita membaca keakraban yang mengagumkan yang dinikmati Abraham bersama Tuhan melalui Kristus yang bertindak sebagai utusan Tuhan. Yesus Kristus dan dua malaikat bertemu dengan Abraham utnuk menyatakan padanya bahwa Sara akan melahirkan Ishak sebagai suatu penggenapan janji Tuhan kepadanya. Kemudian kedua malaikat itu melanjutkan perjalanan mereka menuju Sodom untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya agar tidak turut terseret di dalam pemusnahan kota tersebut.
Kejadian 18:17-19 Tuhan berfirman: “Apakah aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? 18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19 Tidak, sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya.” (RSV — terjemahan bebas)
Dalam Alkitab versi King James ayat 19 tertulis:
Kejadian 18:19 Sebab Aku mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan kepada anak-anak dan keluarganya untuk mengikuti jalannya . . . (KJV)
Kristus, sebagai Malak (utusan) Tuhan, tahu seperti apa pribadi Abraham sebenarnya dan merasa aman untuk mempercayakan rencanaNya mengenai Sodom dan Gomora kepadanya. Dalam ukuran yang sama, Abraham terbuka terhadap Tuhan dan bercakap-cakap secara bebas denganNya, seperti yang dia lakukan dengan Yesus Kristus dalam percakapan yang dicatat dalam ayat-ayat berikut ini:
Kejadian 18:20-33 Sesudah itu berfirmanlah Tuhan: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21 Baiklah Aku turun untuk melihat apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepadaKu atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” 22 Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di harapan Tuhan. 23 Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? 24 Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? 25 Jauhlah kiranya daripadaMu untuk berbuat demikian, membunuh irang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian daripadaMu! Masakah Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” 26 Tuhan berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” 27 Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. 28 Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” FirmanNya: “Aku tidak akan memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima disana.” 29 Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepadaNya: “Sekiranya empat puluh didapati disana?” FirmanNya: “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.” 30 Katanya, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” 31 Katanya: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?” FirmanNya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” 32 Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” FirmanNya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” 33 Lalu pergilah Tuhan , setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya. (LAI)
Kesimpulan
Hubungan yang dinikmati Abraham dengan Tuhan, dalam ukuran manusia, merupakan hubungan yang sungguh luar biasa — tetapi juga menguatkan bagi kita. Tuhan bukanlah Tuhan yang setengah-setengah. Ia bukanlah Tuhan yang pilih kasih. Tuhan tidak melibatkan dirinya sendiri dalam suatu klik (persekongkolan) tertentu ataupun kelompok eksklusif di mana hanya beberapa orang-orang tertentu saja yang dapat masuk. Sebaliknya, Dia memberikan uluran tangan-persahabatan kepada semua bagian dari keluargaNya. Jika kita meneladani kakek moyang rohani kita, Abraham, untuk menjadi senantiasa berkesepakatan dengan Tuhan, menunjukkan kesetiaan dan kehandalan terhadap Tuhan, dan secara terbuka mempercayakan segala sesuatu kepadaNya, maka kita juga akan disebut sebagai sahabat-sahabat Tuhan.
| Komen |
|
hanya ahli berdaftar boleh mennghantar komen!!
Powered by !JoomlaComment 3.26















